Rabu, 20 Mei 2009

Film Propaganda Jaman Jepang

Film Propaganda masa Pendudukan Jepang

oleh: Hairuman Agni Zainal


Pada 1942 Jepang datang ke Indonesia dengan angkatan darat ke-16 mereka mengambil alih Jawa, staf Sendenbu bersama-sama pihak militernya menyita semua perusahaan film yang ada. Oktober 1942 mereka membentuk suatu organisasi sementara untuk menjalankan kebijakan film. Organisasi ini dikepalai oleh Saicchi Oya yang tidak lain merupakan seorang penulis skenario terkenal Jepang yang dipekerjakan sebagai anggota staf Sendenbu.

Film-film yang diproduksi dan diputar pada masa Jepang bertujuan untuk kepentingan politik propaganda Jepang. Setiap film di dalamnya selalu terdapat unsur propaganda Jepang, terlepas dari jenis film itu sendiri baik berupa film dokumenter maupun film cerita. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah Jepang yang membatasi semua ruang gerak dalam berbagai bidang termasuk di dalamnya bidang kebudayaan.

Semua kebijakan yang diterapkan oleh organisasi tersebut didasarkan pada undang-undang film atau Eiga Ho yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Jepang di Tokyo. Isi dari undang-undang film tersebut diantaranya perluasan kontrol pemerintah atas perusahaan film. Di dalamnya juga disebutkan bahwa film-film yang diproduksi dan diedarkan oleh organisasi-organisasi film harus menghilangkan semangat individualistik, harus tetap dengan semangat Jepang, semangat pengorbanan diri untuk bangsa dan masyarakat, mendidik massa, menghilangkan sikap santai, dan berusaha lebih menghormati kepada yang lebih tua.

Fungsi film pada awal masa pendudukan Jepang sebenarnya masih berjalan sebagaimana fungsinya sebagai media hiburan. Ini disebabkan pemerintah pendudukan Jepang menyadari demi kelangsungan perbioskopan di Jakarta, untuk sementara film impor masih diijinkan untuk diputar, dengan syarat menayangkan slide atau film pendek propaganda Jepang.

Setelah Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film) dan Jawa Eiga Haikyu Sha (Perusahaan Distribusi Film) memiliki stok yang cukup, maka impor film asing dihentikan, dan nama bioskop-bioskop yang memakai bahasa Belanda diganti. Selain itu untuk menarik simpati dari kaum Muslim, pertunjukkan di waktu Magrib dan Isya dilarang.

Propaganda Jepang berusaha menerangkan kepada bangsa Indonesia bahwa Jepang sebenarnya adalah keturunan dewa yang ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang kuat atau bangsa yang unggul. Propaganda Jepang juga berusaha menerangkan kepada bangsa Indonesia bahwa Inggris dan Amerika beserta sekutu-sekutunya adalah musuh. Tujuan utama dari propaganda adalah agar masyarakat mau bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang dalam berperang melawan Sekutu dan untuk mengubah mentalitas rakyat. Di samping itu, propaganda tersebut juga menerang kan bahwa perang Pasifik mempunyai tujuan suci yaitu untuk membangun Asia Timur Raya.

Bagaimanapun juga bagi masyarakat, secara umum propaganda Jepang tampak kurang efektif dalam mendidik dan membentuk mereka kearah yang diinginkan penguasa Jepang. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa ada juga beberapa film-film militer Jepang yang bisa saja berguna dalam memberikan kesan kepada masyarakat Indonesia tentang kekuatan orang Jepang. Namun demikian, yang paling terlihat dalam film-film tersebut bukanlah muatan propaganda yang terdapat dalam film, tetapi bagaimana pemerintah pendudukan Jepang mengemas propaganda tersebut melalui media hiburan modern.

1 komentar:

  1. thax ya aku bgung neh cari soal film bayangjan 49 lembar aku copy oke???

    BalasHapus