Sandiwara pada masa Pemerintah Pendudukan Jepang
oleh: Fandi Hutary
Sebelum masa pendudukan Jepang, keadaan seni sandiwara modern di Jakarta mengalami perkembangan. Cikal bakal seni ini muncul pada akhir abad ke-19, dengan hadirnya Komedi Stamboel. Pada tahun 1925 terjadi pembaharuan dalam kesenian ini. Cara penyajiannya telah mendekati sandiwara Barat, seperti adanya tempat atau gedung khusus sebagai tempat pertunjukan dan adanya naskah tertulis untuk diperankan di atas panggung, serta mulai munculnya peran yang mirip dengan sutradara. Pelopor pembaharuan tersebut adalah dua perkumpulan besar, yaitu Miss Riboet Orion dan Dardanella. Pada masa kolonial kegiatan seni sandiwara tidak hanya terbatas pada kalangan profesional (yang kebanyakan adalah kaum kurang terpelajar), kaum terpelajar pun mulai mengadakan pertunjukan sandiwara, yang mereka adakan pada kongres-kongres. Pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda, kegiatan seni sandiwara di Jakarta mengalami ”mati suri”, setelah film Indonesia, ”Terang Boelan”, sukses besar pada tahun 1938-an. Pasca kesuksesan film Indonesia, banyak pemain-pemain dari perkumpulan sandiwara berpindah ke layar lebar.
Perubahan besar terjadi pada seni sandiwara di Jakarta ketika memasuki masa pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang berusaha memajukan seni sandiwara untuk kepentingan propaganda perang mereka, melalui pendirian beberapa organisasi, seperti Sekolah Tonil, Keimin Bunka Shidosho, dan Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa. Perubahan ini disebabkan oleh tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu keadaan politik/perang, kebijakan pemerintah, dan aktifitas seniman sandiwara. Keadaan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang mengalami perkembangan yang cukup signifikan, dibandingkan dengan kondisi pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor pendukung, salah satunya adalah adanya wadah khusus yang menangani segala aktifitas kesenian ini. Perkembangan ini sengaja didorong untuk memperkuat barisan propaganda mereka yang dihadirkan melalui hiburan seni sandiwara.
Pertunjukan-pertunjukan sandiwara panggung menjadi seragam pada masa ini, siaran sandiwara radio menyuarakan pesan propaganda, dan penulisan naskah berupa pesan politik sangat ditekankan. Bentuk propaganda melalui seni sandiwara terwujud dari lakon-lakon yang menghadirkan semangat perang, pengerahan hasil bumi, dan pengabdian kepada tanah air dengan memasuki organisasi militer. Sumbangan pendapatan pertunjukan untuk organisasi militer dan hiburan bagi prajurit, juga merupakan wujud dari itu semua. Dari semua media seni sandiwara yang digunakan pemerintah Jepang, media panggung, sandiwara radio, dan penulisan naskah, ternyata yang paling sampai pesan propagandanya adalah media melalui panggung. Ini dapat dipahami karena pertunjukan sandiwara melalui media panggung mempengaruhi kedua indera sekaligus, yaitu indera pendengaran dan indera penglihatan. Tema-tema propaganda dalam sandiwara tersebut mengalami perubahan pada setiap tahun dalam masa pendudukan.
Pasca proklamasi kemerdekaan, kegiatan seni sandiwara mengalami masa suram, kemudian seniman sandiwara banyak yang terjun ke bisnis produksi film nasional. Nilai positif yang dapat diambil dari kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang, bagi dunia sandiwara selanjutnya, yaitu dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas, muncul secara tegas peran dan tanggungjawab seorang sutradara, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya, serta diperlukan satu wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.
Pada kenyataanya efek/pengaruh propaganda tidak banyak berpengaruh terhadap mereka yang berasal dari kalangan ekonomi rendah dan juga mereka yang berasal dari golongan terpelajar kota. Kalangan ekonomi rendah tidak dapat menjangkau biaya untuk masuk gedung pertunjukan, yang mereka anggap terlampau mahal. Di samping itu mereka juga kurang memahami makna lakon pertunjukan sandiwara modern. Golongan terpelajar tidak terpengaruh oleh propaganda pemerintah yang dihadirkan melalui bentuk hiburan sandiwara. Mereka menganggap pertunjukan sandiwara propaganda tidak mempunyai nilai seni. Berbeda dengan mereka yang berasal dari kalangan kurang terpelajar. Kalangan ini menerima saja pesan-pesan propagada yang disampaikan.

Blog yang bagus... semoga terus berkembang... Saya ingin berbagi article tentang Kuil Todaiji di http://stenote-berkata.blogspot.com/2018/05/nara-di-kuil-todai-ji.html
BalasHapusLihat juga video di youtube https://youtu.be/2i-MwzfWvs4