Rabu, 20 Mei 2009

Tips memilih Piano

Faktor munculnya Trend Piano 2nd Hand

Kondisi ekonomi Indonesia selama tahun-tahun terakhir ini menyebabkan penurunan daya beli yang sangat significant, sementara kebutuhan hidup cenderung tetap bertambah. Solusinya, banyak orang mencoba memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menurunkan standar mereka, misalnya dengan barang sejenis namun harganya ( dan untuk sebagian kasus, mutu juga ) lebih rendah, atau barang yang sama namun kondisi bekas pakai ( barang secondhand/barang seken ).

Kondisi diatas juga berlaku dalam bidang musik, yang kini untuk banyak orang tidak lagi merupakan sekedar hobby/gaya hidup, tetapi telah menjadi kebutuhan, bahkan kebutuhan primer. Harga instrument musik yang relatife mahal ( sebagian besar masih diimpor ) membuat pasar barang “seken”/bekas untuk alat musik kian marak. Untuk instrument piano khususnya, banyak orang tergiur menarik keuntungan dengan menjual piano-piano bekas pakai, yang telah di “facelift” sedemikian rupa sehingga menyerupai piano baru.

Fakta tentang Piano 2nd hand.

Umumnya penjual piano bekas akan mengatakan bahwa piano yang dijualnya masih relatif baru (tentu saja!), hanya digunakan selama 2-3 tahun dari pemilik sebelumnya. Tapi apakah benar demikian? Kenyataannya, banyak piano bekas yang sudah berumur 20-30 tahun (dalam beberapa kasus bahkan 40 tahun!). Banyak piano bekas yang merupakan barang “bekas impor”, maksudnya diimpor dalam keadaan bekas pakai, dan salah satu negara yang kerap mengekspor piano bekas ini adalah Jepang. Di Jepang piano-piano tersebut statusnya bukan lagi sebagai ”barang bekas pakai yang dijual lagi”, melainkan sudah benar-benar sebagai barang bekas yang ditinggalkan pemiliknya/barang loak.

Import barang berkategori ”tak terpakai lagi” tentu saja sangat murah, namun di lain pihak tentu saja dengan kondisi yang juga sudah semestinya ditinggalkan. Agar layak jual, tentu “barang-barang loak” tersebut harus mengalami perbaikan besar-besaran, yang tentunya akan memakan biaya sangat besar. Bila demikian, maka akhirnya harga jualnya pun akan menjadi sangat tinggi, dan profit yang diterima oleh importer/penjual akan berkurang. Untuk memaksimalkan profit, banyak pedagang piano bekas yang kurang bertanggung jawab akan mengambil langkah dengan hanya memberikan perbaikan yang sifatnya hanya kosmetik (memelitur/mencat ulang). Dan apabila ada spare part yang harus diganti, mereka tidak membeli yang baru melainkan hasil “jarahan” dari piano bekas lain.

Lalu apa akibatnya bila membeli piano bekas? Karena perbaikan yang sifatnya ”facelift” dan seadanya, tentu mutu instrument jauh dari standar. Selain itu masa pakai instrumen tersebut juga jauh lebih pendek karena selain usia yang sudah tua dan spare part yang tidak baru lagi (contoh kasus adalah hammer/pemukul snar piano yang sudah lapuk dan seharusnya diganti), rancangan dasarnya pun tidak dimaksudkan untuk daerah tropis. Misalnya, sebuah piano pabrikan Jepang: Negeri Jepang mempunyai iklim yang lebih dingin dari Indonesia yang beriklim tropis. Selain itu Jepang juga mempunyai 4 musim. Apa bila piano (bahan utama adalah kayu, sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan iklim) tersebut digunakan di Indonesia, tentu tidak cocok dengan iklim Indonesia yang tropis dan lembab serta hanya memiliki 2 musim sehingga daya tahan piano juga akan menurun.

Spare Part dan Purna Jual Piano 2nd Hand

Walaupun dengan penjelasan panjang lebar mengenai kemungkinan parahnya kondisi piano bekas, tetap saja masih ada orang berpikir bahwa kerusakannya toh dapat diperbaiki oleh toko/pihak penjualnya.

Kenyataannya, memang semua piano tersebut dapat diperbaiki, namun akan memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu yang lama. Tambahan lagi, ada kemungkinan pihak penjualnya tidak mempunyai kemampuan dan peralatan yang memadai serta spare part yang sulit dicari karena sudah tidak diproduksi lagi. Dengan segala kerepotan diatas, lalu apa artinya harga murah? Mungkin diperoleh selisih harga hanya 20%-30% lebih murah dari harga piano baru, tetapi beberapa bulan kemudian timbul kerepotan dan pengeluaran yang sangat besar untuk memperbaiki piano tersebut. Perbaikan tersebut antara lain: ganti komponen, biaya tukang, tuning (stem)/reparasi, komponen yang tidak tersedia, dsb. Bisa jadi dengan segala biaya dan waktu yang terbuang, harga aktual dari piano bekas tersebut lebih tinggi dari haga piano baru, yang memang tinggi harganya, tetapi tinggal di bawa pulang dan dimainkan, serta memperoleh jaminan garansi atas layanan service selama tiga tahun dan penyediaan spare part yang sesuai dengan kebutuhan.

Tips Memilih Piano baru Dengan Baik.

Beberapa tips berikut akan membantu dalam beberapa proses memilih paino baru sebelum anda memutuskan untuk membelinya :

1. Utamakan membeli piano baru yang mereknya popular/telah dikenal karena mutu kualitasnya pasti dapat di pertanggung jawabkan.

2. Perhatikan juga garansi, serta layanan purna jual yang diberikan, termasuk kemudahan perbaikan, kemudahan memperoleh spare part, dsb

3. Periksalah nomor seri dari piano baru yang hendak dibeli, sehingga dapat diketahui usia sebenarnya dari piano tersebut dengan menanyakan pada distributor merek tersebut.

Berikut ini adalah data tahun produksi dan nomor seri PianoYamaha yang dapat anda pergunakan sebagai pedoman dalam memilih dan membeli piano baru sehingga anda dapat terhindar dari kerugian di kemudian hari seperti yang telah dijabarkan di atas:

Tahun Pembuatan

No. Serie


Tahun Pembuatan

No. Serie

September 1952

50000


Desember 1976

2350000

Juli 1954

60000


Juni 1977

2450000

Januari 1956

70000


Desember 1977

2550000

Juli 1957

80000


Juni 1978

2660000

Februari 1958

90000


Desember 1978

2770000

Nopember 1958

100000


Juni 1979

2890000

Oktober 1959

110000


Desember 1979

3010000

Nopember 1959

120000


Juni 1980

3130000

April 1960

130000


Oktober 1980

3210000

Oktober 1960

140000


Desember 1980

3250000

Maret 1961

150000


Juni 1981

3380000

Juni 1962

200000


Desember 1981

3480000

April 1963

250000


Juni 1982

3580000

Januari 1964

300000


Desember 1982

3670000

Oktober 1964

350000


Juni 1983

3780000

Juni 1965

410000


Desember 1983

3880000

Desember 1965

470000


Juni 1984

3990000

Maret 1966

500000


Desember 1984

4090000

Juni 1966

530000


Juni 1985

4170000

Desember 1966

560000


Desember 1985

4250000

Juni 1967

600000


Juni 1986

4320000

Desember 1967

680000


Desember 1986

4390000

Juni 1968

750000


Juni 1987

4450000

Desember 1968

810000


Desember 1987

4510000

Juni 1969

870000


Juni 1988

4580000

Desember 1969

960000


Desember 1988

4690000

Juni 1970

1040000


Juni 1989

4760000

Desember 1970

1130000


Desember 1989

4820000

Juni 1971

1230000


Juni 1990

4890000

Desember 1971

1330000


Desember 1990

4950000

Juni 1972

1420000


Juni 1991

5010000

Desember 1972

1550000


1992

5080000

Juni 1973

1640000


1993

5190000

Desember 1973

1700000


1994

5300000

Juni 1974

1810000


1995

5390000

Desember 1974

1960000


1996

5460000

Juni 1975

2040000


1997

5520000

Desember 1975

2150000


1998

5590000

Juni 1976

2250000


1999

5810000


sumber: www.geocities.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar